Tuesday, Feb 09th

Last update10:23:41 AM GMT

Headlines
Anda di sini: Utama

Halaqah-Online

Memahami Asy Syahadatain

Emel Print PDF

بسم الله الرحمن الرحيم

 

MEMAHAMI ASSYAHADATAIN

التعريف بالشهادتي

 

Muqadimah

          Syahadat merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang, yang akan menentukan perjalanan kehidupannya. Dengan syahadat, orientasi duniawi (baca; materiil) akan berubah menjadi orientasi ukhrawi yang secara langsung atau tidak dapat merubah tujuan dan perjalanan hidup seseorang. Dan dengan syahadat ini pulalah, Rasulullah SAW mengubah kondisi masyarakat Arab, dari kehidupan yang jahili menuju kehidupan yang Islami.

          Syahadat membawa perubahan mendasar dalam jiwa setiap insan. Syahadat merubah kondisi masyarakat dari akarnya yang paling bawah; yaitu dari sisi relung hatinya yang paling dalam. Ketika hati telah berubah, maka segala gerak gerik, tingkah laku, pola pikir, kejiwaan dan segala tindak tanduk akan berubah pula.

          Namun tentulah untuk dapat mewujudkan perubahan seperti itu, harus terlebih dahulu memahami hakekat yang terkandung dalam kalimat yang membawa perubahan itu. Para sahabat, yang mereka semua sebagian besar orang Arab, sangat memahami makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Sehingga ketika mereka mengucapkannya, merekapun mengetahui dan memahami konsekwensi yang bakal mereka terima dari ucapannya. Oleh karena itulah, tidak sedikit kasus adanya penolakan dari mereka untuk mengucapkan kalimat tersebut. Bahkan diantara mereka ada yang mengatakan akan dapat mengatakan sepuluh kalimat, asalkan bukan kalimat yang satu itu.

 

Urgensi Syahadatain

Dari sinilah, kita dapat memetik urgensi (baca ; ahamiyah) dari syahadat. Dan terdapat beberapa urgensi syahadat penting lainnya. Diantaranya adalah:

1.     (مَدْخَلٌ إِلَى اْلإِسْلاَمِ)

Syahadat merupakan pintu gerbang masuk ke dalam Islam.

Karena pada hakekatnya, syahadat merupakan pemisah seseorang dari kekafiran menuju Iman. Artinya dengan sekedar mengucapkan syahadat, seseorang telah dapat dikatakan sebagai seorang muslim. Demikian pula sebaliknya, tanpa mengucapkan syahadat, seseorang belum dapat dikatakan sebagai seorang muslim, kendatipun baiknya orang tersebut.

Dalam syahadat seseorang akan mengakui bahwa hanya Allah lah satu-satunya Dzat yang mengatur segala sesuatu yang ada di jagad raya, termasuk mengatur segala aspek kehidupan manusia dengan mengutus seorang rasul yang ditugaskan untuk membimbing umat manusia, yaitu nabi Muhammad SAW.

 

2.     (خُلاَصَةُ تَعَالِيْمِ اْلإِسْلاَمِ)

Syahadat merupakan intisari dari ajaran Islam.

Karena syahadat mencakup dua hal: Pertama konsep la ilaha ilallah; merealisasikan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah, baik yang dilakukan secara pribadi maupun secara bersamaan (berjamaah). Dari sini akan melahirkan keikhlasan kepada Allah SWT. Kedua, konsep Muhammad adalah utusan Allah, mengantarkan pada makna bahwa konsep ini menjadi konsep yang mengharuskan kita untuk mengikuti tatacara penyembahan kepada Allah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Atau dengan kata lain sering disebut dengan ittiba’.

 

3.     (أَسَاسُ اْلإِنْقِلاَبِ)

Syahadat merupakan dasar perubahan total, baik pribadi maupun masyarakat.

Karena syahadat dapat merubah kondisi suatu masyarakat, bangsa dan negara secara menyeluruh, dengan sentuhan yang sangat dalam yaitu dari dalam tiap diri insan. Karena jika seseorang dapat berubah, maka ia akan menjadi perubah yang akan merubah masyarakatnya. Allah berfirman dalam (QS. 13 : 11) :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum, hingga mereka mau merubah diri mereka sendiri.”

 

4.     (حَقِيْقَةُ دَعْوَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)

Syahadat merupakan hakekat da’wah Rasulullah SAW.

Karena pada hekekatnya da’wah Rasulullah SAW adalah da’wah untuk menegakkan dua hal; yaitu mentauhidkan Allah. Dan kedua menggunakan metode Rasulullah SAW dalam merealisasikan ibadah kepada Allah SWT.

 

5.     (فَضَائِلٌ عَظِيْمَةٌ)

Syahadat memiliki keutamaan yang besar.

Diantaranya keutamaanya adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا

رَسُولُ اللَّهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ

“Dari Ubadah bin al-Shamit, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah akan mengharamkam neraka baginya”. (HR. Muslim)

 

 
Arti Kata Syahadat

Ditinjau dari segi bahasa, sedikitnya terdapat tiga arti dari kata syahadat, ketiga makna tersebut adalah :

1.     (الإعلان/ الإقرار) Pernyataan

Mengenai makna ini, Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an (QS. 3 : 18) :

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

 

Seseorang yang bersyahadat, berarti ia telah menyatakan sesuatu, sesuai dengan apa yang dinyatakannya. Dalam hal ini seseorang menyatakan bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwanya Muhammad adalah utusan Allah.

 

2.     (القسم / الحلف) Sumpah

Allah berfirfirman (QS. 24 : 6):

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلاَّ أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.”

 

Seseorang yang bersyahadat, maka ia sesungguhnya telah menyatakan diri dengan bersumpah, bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

 

3.     (العهد / الوعد) Perjanjian

Allah berfirman (QS. 2 : 84) :

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لاَ تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلاَ تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ

 “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.”

 

Seorang yang bersyahadat, sesungguhnya ia telah berjanji kepada Allah SWT untuk mentauhidkannya (tiada tuhan selain Allah), demikian juga berjanji untuk menjadikan nabi Muhammad adalah benar-benar utusan Allah, yang harus ia ikuti.

 

Syarat Diterimanya Syahadat

          Melihat makna syahadat di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ternyata syahadat bukanlah merupakan hal sepele yang ringan diucapkan oleh lisan. Namun syahadat memiliki konsekwensi yang demikian besarnya di hadapan Allah SWT. Oleh karena itulah, kita melihat para sahabat Rasulullah SAW yang langsung memiliki perubahan yang besar dalam diri mereka, setelah mengucapkan kalimat tersebut.

Berkenaan dengan hal ini, kita perlu melihat sejauh mana batasan-batasan yang dapat menjadikan syahadat kita dapat diterima oleh Allah SWT. Para ulama memberikan beberapa batasan, agar syahadat seseorang dapat diterima. Diantaranya adalah:

1.     (العلم المنافي للجهل)  Didasari dengan ilmu.

Yaitu (pengetahuan) tentang makna yang dikandung dalam syahadat, dengan pengetahuan yang menghilangkan rasa ketidaktahuan tentang syahadat yang akan diucapkannya itu. Allah berfirman (QS. 47 : 19) :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.”

 

2.     (اليقين المنافي للشك)  Didasari dengan keyakinan

Artinya seseorang ketika mengucapkan syahadat, tidak hanya sekedar didasari rasa tahu bahwa tiada tuhan selain Allah, namun rasa ‘tahu’ tersebut harus menjadi sebuah keyakinan dalam dirinya bahwa memang benar-benar hanya Allah Rab semesta alam. Allah berfirman (QS. 49 : 15):

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ  آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”

 

3.     (الإخلاص المنافي للشرك)  Didasari dengan keikhlasan

Keyakinan mengenai keesaan Allah itupun harus dilandasi dengan keikhlasan dalam hatinya bahwa hanya Allah lah yang ia jadikan sebagai Rab, tiada sekutu, tiada sesuatu apapun yang dapat menyamainya dalam hatinya. Keiklasana seperti ini akan menghilangkan rasa syirik kepada sesuatu apapun juga. Allah berfirman (QS. 98 : 5):

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

 

4.     (الصدق المنافي للكذب)  Didasari dengan kejujuran

Persaksian itu juga harus dilandasi dengan kejujuran, artinya apa yang diucapkannya oleh lisannya itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam hatinya. Karena jika lisannya mengucapkan syahadat, kemudian hatinya meyakini sesuatu yang lain atau bertentangan dengan syahadat itu, maka ini merupakan sifat munafik. Allah berfirman (QS. 2 : 8 – 9):

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ*  يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ*

“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”

 

5.     (المحبة المنافية للبغض والكراهة)  Didasari dengan rasa cinta/ keridhaan

Maknanya adalah bahwa seseorang harus memiliki rasa kecintaan kepada Allah SWTdalam bersyahadat. Karena dengan adanya rasa cinta ini, akan dapat menghilangkan rasa kebencian kepada Allah dan al-Islam. Allah SWT berfirman (QS. 2 : 165):

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ

ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

 

6.     (القبول المنافي للرد)  Didasari dengan rasa penerimaan

Syahadat yang diucapkan juga harus diiringi dengan rasa penerimaan terhadap segala makna yang terkandung di dalamnya, yang sekaligus akan menghilangkan rasa “ketidak penerimaan” terhadap makna yang dikandung syahadat tersebut. Allah berfirman (QS. 33 : 36):

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ

وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

 

7.     (الإنقياد المنافي للإمتناع والترك وعدم العمل) 

Didasari dengan rasa kepatuhan (terhadap konsekwensi syahadat).

Terakhir adalah bahwa syahadat memiliki konsekwensi dalam segala aspek kehidupan seorang muslim. Oleh karenanya seorang muslim harus patuh terhadap segala konseksensi yang ada, yang sekaligus menghilangkan rasa ‘ketidakpatuhan’ serta keengganan untuk tidak melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah dan Rasulullah SAW. Allah berfirman (QS. 24 : 51):

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

 

 

Makna Syahadatain

1.     Uraian makna dan fungsi kata La ilaha ilallah (لآ إله إلا الله)

 

Kata

Makna

Fungsi

La (لا)

Tiada/ Tidak

Nafi (النفي): Peniadaan

Ilaha (إله)

Tuhan (yang disembah)

Manfa (المنفى): yang dinafikan/ ditiadakan.

Illa (إلا)

Kecuali

Adatul Istisna’ (أداة الإستثناء): pengecualian.

Allah (الله)

Allah SWT

Al-Mustasna (المستثناء) :yang dikecualikan

 

2.     Arti la ilaha ilallah

Ilah secara bahasa memiliki arti sesuatu yang disembah. Dimensi Ilah dalam kehidupan ini dapat mencakup makna yang luas, diantaranya adalah :

a)    Malik (المالك) raja/ pemiliki :

Tiada Pemiliki/ Raja selain Allah SWT/ Tiada kerajaan selain untuk Allah SWT. Allah SWT berfirman (QS. 4: 131)

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

 

b)    Hakim (الحاكم) ; Pembuat hukum.

Tiada pembuat hukum selain Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam (QS. 6 : 114) :

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلاً وَالَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ

أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.”

 

Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 6 : 57)

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”

 

c)     Amir (الأمير) : Pemerintah (yang berhak memberikan perintah)

Tiada pemerintah (yang berhak memberikan perintah atau larangan) selain Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah mengatakan (QS. 7 :54):

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ  اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”

 

d)    Wali (الولي) : Pelindung/pemimpin.

Tiada pelindung/pemimpin selain Allah SWT. Allah berfriman dalam Al-Qur’an (QS. 2:257)

اللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ  آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

 

e)    Mahbub (المحبوب) : Yang dicintai.

Tiada yang dicintai selain Allah SWT Dalam Al-Qur’an Allah SWT mengatakan (QS. 2 : 165):

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ  آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى

الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

 

f)      Marhub (المرهوب): Yang ditakuti.

Tiada yang ditakuti selain Allah SWT. Allah berfirman (QS. 9 : 18)

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللَّهَ فَعَسَى

أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ 

“Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

 

g)    Marghub (المرغوب): Yang diharapkan

Tiada yang diharapkan selain Allah SWT. Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 94 : 8) :

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

 

h)    Haul wal Quwah (الحول والقوة) : Daya dan kekuatan

Tiada daya dan tiada kekuatan selain Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 51 : 58) :

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

 

i)       Mu’dzam (المعظم) :

Tiada yang diagungkan selain Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah SWT mengatakan (QS. 22 : 32):

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.

 

j)      Mustaan bihi (المستعان به) :  tempat dimintai pertolongan.

Tiada yang dimintai pertolongan selain Allah SWT. Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 1 : 5) :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

 

Hal-Hal yang Membatalkan Syahadat

          Terdapat hal-hal yang dapat membatalkan syahadat yang telah kita ikrarkan di hadapan Allah SWT. Uzt. Said Hawa menyebutkannya ada 20 bentuk. Berikut adalah beberapa hal yang dapat membatalkan syahadat kita, yang memiliki konsekwensi kekufuran kepada Allah:

1.     Bertawakal dan bergantung pada selain Allah.

Allah berfirman (QS. 5 : 23):

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah lah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

 

2.     Bekerja/ beraktivitas dengan tujuan selain Allah.

Karena sebagai seorang muslim, seyogyanya kita memiliki prinsip: (QS.6:162)

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”

 

3.     Membuat hukum/ perundangan selain dari hukum Allah

Allah berfirman (QS. 5 : 57):

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”

 

4.     Menjalankan hukum selain hukum Allah

Allah berfirman (QS. 5 : 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Dan barang siapa yang tidak menughukum dengan apa yang telah ditirunkan Allah (Al-Qur’an), maka mereka itu adalah orang-orang kafir.”

 

5.     Lebih mencintai kehidupan dunia dari pada akhirat.

Allah berfirman (QS. 14 : 2-3):

اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ * الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ

الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلاَلٍ بَعِيدٍ*

“Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.”

 

Dalam ayat lain Allah berfirman (QS. 9 : 24) :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا

 وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ

وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

 

6.     Mengimani sebagaina ajaran Islam dan mengkufuri (baca; tidak mengimani) sebagian yang lain.

Allah berfirman (QS. 2 : 85):

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”

 

7.     Menjadikan orang kafir sebagai pemimpin.

Allah berfirman (QS. 5: 51):

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

 
Penutup

          Pada intinya, jika seseorang memahami dan mengetahui dengan baik apa yang terkandung dalam kalimat syahadat, tentulah mereka akan dapat memiliki keimanan dan komitmen yang tinggi kepada Allah, yang dapat mengantarkannya pada derajat ketaqwaan sebagaimana para sahabat Rasulullah SAW. Barangkali kualitas keimanan kita yang rendah adalah karena kurangnya pemahaman yang utuh mengenai kalimat ini. Sehingga meskipun sering diucapkan lisan, namun belum dapat diterjemahkan dalam kehidupan rill sehari-hari.

          Dengan memahami kembali makna syahadat beserta hal-hal lain yang terkait dengan dua kalimat ini, semoga dapat menjadikan keimanan dan keislaman kita lebih baik lagi. Wajar, jika terdapat beberapa hal yang masih kurang dalam keimanan kita. Karena kita adalah manusia dengan segala kekurangan yang kita miliki. Oleh karena itulah, marilah kita memperbaiki hal-hal tersebut dengan yang lebih baik lagi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.

         

Wallahu A’lam Bis Shawab.

          By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.

 

 

 

 

Bahan Bacaan

 

 

Azzam, Abdullah. Al-Aqidah wa Atsaruha fi Bina’ al-Jail. 1991 – 1411. Cet I. Kairo – Mesir : Dar al-Isra’.

Al-Buraikan, Ibrahim Muhammad bin Abdullah. Pengantar Studi Aqidah Islam. Terj. 1998. Cet. I. Jakarta : Robbani Press & Al-Manar.

Hawwa, Sa’id. Al-Islam. (Terj. Oleh Abu Ridha dan AR Shaleh Tamhid) Cet. I – 2000. Jakarta : Al-I’tisham Cahaya Umat.

Quthb, Muhammad. La Ilaha Ilallah Sebagai Aqidah, Syari’ah, dan Sistem Kehidupan. 1996. Cet. I. Terj. Jakarta : Robbani Press.

CD. ROM. Al-Qur’an 6.50 & Al-Hadits. Syirkah Sakhr li Baramij al-Hasib (1991 – 1997).

CD. ROM. Mausu’ah Ulama’ al-Islam; Dr. Yusuf al-Qardhawi ; al-Fiqh wa Ushulih. Al-Markaz al-Handasi lil Abhas al-Tatbiqiyah.

CD. ROM. Mausu’ah al-Hadits al-Syarif 2.00 (Al-Ishdar al-Tsani). Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah.

Terakhir Diubah pada Ahad, 06 September 2009 06:49

Saat - saat Ahli Syurga Menjemput Maut

Emel Print PDF

Saat - saat Ahli Syurga Menjemput Maut - Muhammad S.A.W (Part 1) Dari Ubaidillah Bin Abdullah bin Utbah bahawa Aisyah r.a dan Abdullah Bin Abbas r.a berkata "Pada saat Rasulullah S.A.W menjelang wafat, beliau mengenakan khamisah di wajahnya. Ketika beliau merasakan kegerahan , beliau membukanya . Dalam keadaan demikian beliau bersabda "Laknat allah bagi orang - orang Yahudi dan Nasrani; mereka menjadikan makan nabi - nabinya sebagai masjid."

Dari ummu salamah bahawa Rasuluullah s.a.w ketika sakit menjelang wafatnya bersabda, Jagalah solat kalian dan hak - hak budak kalia. Beliau terus sahaja mengucapkan perkataan itu sehingga akhirnya liday beliau kelu. Dari Aisyah r.a ,ia berkata . "Saya melihat sendiri Wafatnya Rasulullah s.a.w. Di samping beliau terdapat sebuah bejana yang berisi air. Beliau memasukkan tangannya kedalam bejana, kemudian mengusap wajahnya denganair lalu bersabda, "Ya Allah , tolonglah aku dalam menghadapi sarakatulmaut" Dari Aisyah r.a ia berkata "Pada saat-saat akhir menjelang wafat, sakit yang dirasakan oleh Rasulullah s.a.w semakin kuat . Pada ketika itu beliau meminta izin kepada isteri-isterinya untuk dirawat dirmahku Mereka pun mengizinkannya. Beliau keluar bersama dua orang.

Kedua kali beliau melangkah di atas tanah dengan dipapah oleh Ibnu Abbas bin Abdul Muthalib dan seorang lelaki lain" Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud berkata, "saya sampaikan kepada Abdullah perkara yang diucapkan oleh Aisyah itu. Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku, Tahukah kamu, siapakah lelaki lain yang tidak disebut namanya oleh Aisyah? Saya menjawab , tidak tahu . Ibnu Abbas berkata, 'Dia adalah Ali." Aisyah, isteri Nabi s.a.w , bercerita, Ketika Rasulullah s.a.w memasuki rumahku, sakit yang beliau rasakan semakin teruk.

Beliau bersabda, 'Siramlah aku dengan menggunakan tujuh geriba yang talinya belum dilepas, kerana mungkin aku kaan memberikan wasiat kepada orang'. Kamipun mendudukkan beliau di atas bejana milik Hafshah, isteri Nabi s.a.w. Mulailah kami menyiram beliau menggunakan geriba-geriba tersebut, sampai akhirnya beliau memberikan isyarat tangan kepada kami bahawa yang kami lakukan telah cukup." Aisyah berkata lagi, "Kemudian beliau pergi ke tengah-tengah manusia, melakukan solat bersama mereka, dan berceramah di hadapan mereka".

BERSAMBUNG..................

Terakhir Diubah pada Sabtu, 21 November 2009 02:04

Syaikh Tamimi: Masjid Al-Aqsha akan Segera Runtuh

Emel Print PDF

Syaikh Taysir Tamimi, ketua mahkamah Palestin memperingatkan kemungkinan akan runtuhnya masjid Al-Aqsha kerana penggalian yang dilakukan oleh zionis Yahudi di bawah lantai masjid dan sekitarnya.

Syaikh Tamimi mengatakan hal tersebut dalam sebuah sidang mediayang diadakan pada hari rabu semalam (20/1) di Ramallah.

"Saya takut, kekhawatiran saya ini adalah yang terakhir sebelum runtuhnya masjid Al-Aqsha dan saya berharap umat Islam dunia harus segera bangun dari tidurnya untuk membela Al-Aqsha," kata Syaikh Tamimi.

Pada sidang media tersebut Syaikh Tamimi juga memperlihatkan kepada media gambar tanah yang runtuh yang terjadi berhampiran masjid Al-Aqsha akibat penggalian yang dilakukan zionis Yahudi di tempat itu, termasuk baru-baru ini runtuhnya sebagian kompleks masjid di wilayah Silwan yang terjadi hari Isnin lalu, dan ia mengungkapkan bahawa adanya lubang yang dalam di bawah tanah.

Dia menekankan bahawa persoalan ini sangat serius, dan telah berulang kali ia memberikan peringatan akan akibat dari penggalian zionis Israel di bawah masjid Al-Aqsha, dan kembali menegaskan bahawa penggalian tersebut akan menyebabkan runtuhnya masjid Al-Asha, seperti dilaporkan AFP.

Runtuhan yang terjadi baru-baru ini di distrik Silwan merupakan petanda dan fakta bahawa runtuhnya masjid Al-Aqsha akan segera terjadi.

Syaikh Tamimi mengulangi peringatannya akan bencana nyata yang mengancam masjid Al-Aqsha. "Kami telah berteriak seperti di lembah namun orang-orang tidak mempedulikannya, kalau hal ini terus terjadi masjid Al-Aqsha akan segera hancur," kata Syaikh Tamimi.

Indikasi Adanya Konspirasi

Ketua mahkamah Palestin tersebut menekankan: "diam"nya autoriti Palestin adalah indikasi akan adanya konspirasi terhadap masalah ini, namun kami tidak mahu menuduh sesiapa, tapi diamnya pihak penguasa baik Palestin maupun Israel dan tidak adanya tindakan yang dilakukan terhadap Israel - menjadi tanda tanya bagi kita semua, mengapa Israel boleh bebas melakukan tindakan seperti itu."

Pada tanggal 6 Februari 2007, Israel mula bekerja melakukan penggalian berhampiran gerbang Magharabi menuju ke halaman masjid Al-Aqsha dan kubah batu.(fq/imo)

Bahaya Tidur Selepas Subuh

Emel Print PDF

Kita telah ketahui bersama bahwa waktu pagi adalah waktu yanng penuh barakah dan di antara waktu yang kita diperintahkan untuk memanfaatkannya. Akan tetapi, pada kenyataannya kita banyak melihat orang-orang melalaikan waktu yang mulia ini. Waktu yang seharusnya dipergunakan untuk bekerja, melakukan ketaatan dan beribadah, ternyata dipergunakaan untuk tidur dan bermalas-malasan.

Saudaraku, ingatlah bahawa orang-orang soleh terdahulu sangat membenci tidur pagi. Kita dapat melihat ini dari penuturan Ibnul Qayyim ketika menjelaskan masalah banyak tidur bahawa banyak tidur dapat mematikan hati dan membuat badan merasa malas serta membuang-buang waktu. Beliau rahimahullah mengatakan,

“Banyak tidur dapat mengakibatkan lalai dan malas-malasan. Banyak tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan bahaya bagi badan.

Waktu tidur yang paling bermanfaat yaitu :

  1. Tidur ketika perlu tidur.
  2. Tidur di awal malam – ini lebih manfaat daripada tidur lewat malam
  3. Tidur di pertengahan siang –ini lebih bermanfaat daripada tidur di waktu pagi dan petang. Apatah lagi pada waktu pagi dan petang sangat kurang manfaatnya bahkan lebih banyak bahaya yang ditimbulkan, lebih-lebih lagi tidur di waktu Asar dan awal pagi kecuali jika memang tidak tidur semalaman.

Menurut para salaf, tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai solat subuh hingga matahari terbit. Kerena pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai ghonimah (pahala yang berlimpah). Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang soleh. Sehingga apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mahu tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian kerana waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rezeki dan datangnya barokah (banyak kebaikan).” (Madarijus Salikin, 1/459, Maktabah Syamilah)

BAHAYA TIDUR PAGI

[Pertama] Tidak sesuai dengan petunjuk Al Qur'an dan As Sunnah.

[Kedua] Bukan termasuk akhlak dan kebiasaan para salafush soleh (generasi terbaik umat ini), bahkan merupakan perbuatan yang dibenci.

[Ketiga] Tidak mendapatkan barokah di dalam waktu dan amalannya.

[Keempat] Menyebabkan malas dan tidak bersemangat di sisa harinya.

Maksud dari hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnul Qayyim. Beliau rahimahullah berkata, "Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya." (Miftah Daris Sa'adah, 2/216). Amalan seseorang di waktu muda berpengaruh terhadap amalannya di waktu tua. Jadi jika seseorang di awal pagi sudah malas-malasan dengan sering tidur, maka di petang harinya dia juga akan malas-malasan pula.

[Kelima] Menghambat datangnya rezeki.

Ibnul Qayyim berkata, "Empat hal yang menghambat datangnya rezeki adalah [1] tidur di waktu pagi, [2] sedikit solat, [3] malas-malasan dan [4] berkhianat." (Zaadul Ma’ad, 4/378)

[Keenam] Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat. (Zaadul Ma’ad, 4/222)

Di petik dari rumaysho.com.

Terakhir Diubah pada Selasa, 02 Febuari 2010 00:58

Kisah Tarbiyah Dari Kem Hafazan 2009 2

Emel Print PDF

Langkah kaki diatur penuh harapan. Kembali ke medan perjuangan mencari cinta Tuhan bersama mujahidah-mujahid kecil dan serikandi-serikandi sejati pilihan Allah di kem hafazan 2009.

Tatkala itu, masa berlalu sangat cepat. Sehingga hampir tiba masa untuk solat Dhuha dan makan pagi. Iqra menatap setiap diri adik-adik hafizah yang khusyuk dengan ayat-ayat Allah di mushaf dan di bibir masing-masing. Walaupun Iqra meninggalkan halaqahnya untuk seketika, semua masih lagi dengan mujahadah menghafal Al-Quran. Terdapat juga beberapa orang adik hafizah yang menunggu untuk mentasmi’ bacaan dengannya.

Seorang adik hafizah bernama Afifah menunggu dengan sabar sehingga Iqra duduk di tempatnya. Lalu, Afifah meminta Iqra untuk mentasmi’ surah Al-Buruj.

“Ustazah, nak hafal surah Al-Buruj?”. Pinta Afifah.

“Baiklah. Mulakan”. Ujar Iqra supaya Afifah meneruskan dengan hafalannya. Dengan dimulakan dengan Isti’azah dan Basmallah, bait-bait kalimah Allah dalam surah Al-Buruj diperdengarkan pada Iqra. Terkadang itu, Iqra membetulkan maghraj huruf yang salah dan juga menegur andai ada dengung atau Qalqalah yang tidak cukup sempurna. Iqra cuba untuk mengesan sebarang kesalahan tajwid termasuk yang bersifat jali (terang) atau khafi (tersembunyi) walaupun peserta telah ditasmi’ bacaannya dan ditegur dari segi maghraj huruf dan tajwidnya sebelum memulakan hafalan. Ingin sekali Iqra menerangkan secara terperinci tentang hukum-hukum tajwid, namun mungkin ia agak sukar untuk diterima oleh adik-adik kecil. Hakikatnya, walaupun dia telah cuba untuk menerangkan hukum-hukum tajwid secara teori, aplikasi secara praktikal adalah yang paling penting.

“Sodakallahul’azim….”. Afifah menamatkan hafalannya.

“Alhamdulillah. Afifah kena sempurnakan lagi Qalqalah kubra. Baiklah, teruskan usaha. Surah apa lepas ni?” Tanya Iqra untuk menguji pengetahuan adik hafizah yang saban hari telah menghafal semua nama-nama surah.

“Al-Insyiqaq”. Jawab Afifah dengan senyuman di bibir.

“Nak ustazah bacakan untuk Afifah dahulu?” Tanya Iqra lagi.

“Nak.” Jawab Afifah yang sudah bersedia dengan mushaf di hadapannya sambil menunggu Iqra membacakan surah tersebut untuknya.

“Bismillahirahmanirahim. Izassama unsyaqqat. Waazinatlirabiha wa huqqat…...”.

Iqra terus membacakan ayat-ayat cinta Allah itu kepada Afifah. Andai mungkin, dia didengari oleh adik-adik hafizah yang lain, semua berhenti menghafal dan mendengar bacaan Iqra. Hati Iqra melewati ayat-ayat yang terlafaz di bibirnya.

‘Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,’

‘maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,’

‘dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.’

‘Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang,’

‘maka dia akan berteriak “Celakalah aku.”'

‘Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).’

‘Sesungguhnya dia yakin bahawa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhan-nya).’

‘(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhan-nya selalu melihatnya’

(Surah Al-Insyiqaq: 7-15)

Ayat-ayat yang pernah membuatnya menangis di malam harinya tatkala bercerita tentang golongan yang mendapat buku amalannya dari sebelah tangan kanan atau dari belakangnya. Yang juga menceritakan tentang azab api neraka buat orang kufur dan juga nikmat syurga buat mereka yang beriman. Ayat-ayat yang menimbulkan tanda gusar dan takut di hati Iqra kerana dirinya terlalu ingin menjadi mereka yang dibalas syurga dan bukannya yang tidak tunduk pada Tuhannya. Pohonan harapan dan doa dipanjatkan agar dirinya mendapat kesudahan yang baik di akhirat nanti. Ameen.

Sesudah selesai, Iqra bertanya pada adik hafizah sekiranya terdapat apa-apa masalah. Gelengan kepala adik Afifah menandakan segala-galanya baik dan Iqra menggalakkan adik hafizah yang bertudung putih itu untuk teruskan surah hafalan yang seterusnya. Selepas adik Afifah, disusuli pula oleh adik Huda, Alysssa, Narimah, Aisyah, Akmar, Syafiqah, Yani, Ain, dan beberapa adik-adik hafizah yang lain. Masing-masing memberikan reaksi yang baik tatkala Iqra memberikan kebenaran untuk meneruskan hafalan yang seterusnya dan ada juga yang agak bermuram durja apabila Iqra tidak berpuas hati dengan hafalannya.

“Ana asif, anti kena ulang bacaan sekali lagi. Ustazah tak puas hati… Anti pun tak puas hati dengan hafalan anti, kan?” Teka Iqra pada beberapa adik hafizah yang mempunyai masalah dalam hafalannya.

“Takpe, cuba lagi ya. Nanti tasmi’ dengan ustazah lagi.” Senyum tawar yang diberikan tetap menzahirkan kekuatan yang tersembunyi di dalam diri sebahagian besar adik-adik hafizah.

'Alhamdulillah. Semoga semua terus bermujahadah untuk terus menghafal Al-Quran. MasyaAllah, semoga mereka merasai semangat Al-Quran dengan hati mereka. Agar lahir peribadi yang indah, seindah peribadi Rasulullah.' Doa Iqra di dalam hati. Saban hari, kata-kata motivasi dihulurkan oleh Iqra pada adik-adik hafiazah agar tertanam rasa minat dan cita-cita yang tinggi untuk mereka terus berjuang mempunyai Al-Quran di dalam diri. Cahaya Al-Quran yang semoga menerangi dirinya dan diri semua yang berada di sisi.

Tatkala ini dirinya sangat mencemburui mereka yang menghafal Al-Quran atau Halimul Quran (Pembawa Al-Quran). Kerana dalam dada-dada mereka ini ada ayat-ayat cinta Allah yang sangat tinggi nilainya. Harapan Iqra agar mereka semua terus istiqamah dalam perjuangan ini. Ketenangan yang sangat agung hadir dalam diri Iqra tatkala ayat-ayat itu berkumandang indah hinggap di telinganya dan juga di hati kecilnya.

Hadirnya Al-Quran dengan perantaraan Jibril kepada Rasulullah. Kalam suci Al-Quran itu sentiasa ada dalam diri Rasulullah. Dirinya terlalu merindui Rasulullah, yang mungkin di mata hati Iqra, membayangkan indahnya akhlak baginda, ketenangan dan cahaya di wajah baginda, senyuman dan tawa baginda, setiap langkah yang diatur olehnya, setiap kata yang mungkin tertutur dari mulut Rasulullah yang mulia itu…

'MasyaAllah, andai mungkin Rasulullah berada di sini....' Lamunan Iqra terhenti dek kerana merasakan dirinya menjadi tatapan mata adik-adik hafizah.

"Ustazah, dah sampai waktu rehat". Ujar adik Huda kecil yang sangat comel, seperti mempunyai iras wajah orang daripada Pakistan.

"Baiklah. Kita baca doa khatam Al-Quran." Iqra memberi arahan. Suara adik-adik melagukan doa khatam Al-Quran dan disambung dengan tasbih kafarah dan Surah Al-Asr.

"Ustazah, nak ambil wuduk untuk solat Dhuha?" Tanya seorang lagi Huda yang berumur 7 tahun. Tudung comel membingkai indah wajah kecil Huda bersama mata bulat yang bersinar.

"Ya, pergi ambil wuduk, Huda... nanti ustazah ikut." Jawab Iqra dengan lembut. Ternyata adik-adik hafizah yang kecil tak mampu untuk berenggang dengannya. Ada sahaja yang bertanya samada boleh solat di sebelahnya, tasmi' dengannya ataupun baca mathurat bersamanya. Andai mungkin satu ketika dirinya tiada, pasti ada sahaja yang bertanya di manakah dirinya berada.

'MasyaAllah. Semoga ukhwah ini terus mekar. Walau selepas kem ini tamat. Apa yang akan berlaku pada diriku andai adik-adik ini tiada di sisi?' Persoalan mula mencengkam diri. Tatkala mungkin Iqra sudah biasa bergaul rapat dengan budak kecil kerana dialah anak yang sulung dan ada tujuh orang adik-beradik yang lain di bawah jagaannya. Ketawa riang adik-adiknya sentiasa menjadikan hari-harinya ceria.

Iqra menyusun buku-buku dan alat tulis sebelum beredar untuk ke tempat wuduk. Namun begitu, pergerakan Iqra terhenti dek kerana hadirnya seorang mujahidah comel bernama Najihah duduk di sebelahnya dengan muka yang penuh dengan rasa ingin tahu.

“Ustazah…. Boleh saya tanya satu soalan?” Tanya Najihah.

“Ya, saya. Apa dia?” Iqra cuba menggalakkan Najihah untuk bertanya.

“ Kenapa kita menghafal Al-Quran?” Pertanyaan itu diutara oleh Najihah bersulamkan pengharapan yang amat tinggi agar soalan yang diajukan dapat dijawab dengan baik. Ditambah lagi dengan berita yang adik hafizah ini akan pulang ke rumah lebih awal dari biasa di atas beberapa sebab, mungkin mendorong dirinya untuk mendapatkan kata-kata semangat untuk dibawa pulang sebelum bercuti dan berjumpa kembali pada minggu hadapan.

Iqra menundukkan pandangannya sebaik sahaja solan itu diajukan dan berzikir di dalam hati tatkala mata yang menatapnya itu penuh dengan rasa ingin tahu.

‘MasyaAllah…. soalan yang sukar untuk dijawab. Apakah jawapan yang paling sesuai untuk diberikan pada seorang mujahidah kecil yang berumur kurang dari 12 tahun ini, Allah?’ Bicara Iqra di dalam hati. Akalnya ligat mencari kata-kata untuk cuba memuaskan rasa ingin tahu adik hafizah yang dikasihi.

Iqra mencapai Al-Qurannya dan meletakkan mushaf kesayangannya itu dekat di dadanya. Dengan senyuman di bibir, Iqra memandang Najihah dan memulakan bicara.

“Tahu tak Najihah? Salah satu sifat Al-Quran ialah ia terpelihara sehingga hari kiamat. Betul tak?”

Najihah menganggukkan kepalanya tanda setuju.

“Andai satu hari mushaf Al-Quran ini tiada, Al-Quran akan tetap terus terpelihara kerana ada ramai orang di luar sana termasuk Najihah yang menghafal Al-Quran ini. Selain dari itu, terlalu banyak pahala dan ganjaran yang kita dapat kalau kita menghafal Al-Quran. Bukankah terdapat banyak pahala sekiranya kita membaca Al-Quran?” Iqra cuba menjelaskan dengan mudah agar mampu untuk difahami.

“Jadi, kita boleh masuk ke syurga, kan ustazah?” Tanya Najihah.

“Ya.” Iqra tersenyum panjang mendengar pertanyaan itu. Lalu Iqra menyambung.

“Sebenarnya untuk ustazah, Al-Quran ini bagaikan surat cinta dari Allah. Sebab, semua ini ialah kata-kata Allah, kalimah-kalimah cinta Allah. Yang ada cerita tentang langit, bumi, syurga dan neraka, tentang para nabi dan banyak lagi. Kadang-kadang, apabila kita tidak membaca Al-Quran, kita akan terasa rindu padanya. Mungkin kita tidak berada di tempat yang sesuai untuk membuka mushaf Al-Quran ini. Maka, apabila kita menghafal ayat-ayat ini, kita boleh membacanya di mana-mana sahaja. Kalau tidak dialunkan dengan suara, kita alunkan ia di dalam hati. Cuba Najihah bayangkan, kalau Al-Quran ini ada di dalam hati Najihah. Mesti kita sentiasa rasa tenang, kan?” Tanya Iqra.

“Hm… betul, betul, betul.” Jawab Najihah bak Upin dan Ipin, karekter kartun kegemaran kanak-kanak masa kini.

Iqra tertawa kecil melihat reaksi adik kecil itu, tatkala di dalam hatinya mengingatkan kepada Surah Az-Zumar ayat ke 23;

‘Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (iaitu) Al-Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gementar kerananya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan-nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingati Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki sesiapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya’

(Az-Zumar:23)

“Selain itu, Najihah tahu tak tentang cahaya Al-Quran?” Iqra cuba bertanya untuk mengetahui sejauh mana adik hafizah ini tahu tentang Al-Quran agar dia mampu memberi penjelasan dengan lebih efektif. Tatkala itu, terkilas satu hadis di minda Iqra, yang mana Imam Ahmad pernah melaporkan tentang satu hadis dari Rasulullah oleh seorang sahabat Abu Hurairah yang mendengar Nabi Muhammad berkata;

“Sesiapa yang mendengar satu ayat daripada kitab Tuhan, dituliskan kebaikan yang berlipat ganda bagi dirinya. Sesiapa yang membacanya, mendapat cahaya pada Hari Kiamat”

(Riwayat Imam Ahmad)

‘Pastinya antunna semua tahu tentang cahaya Al-Quran...’ Detik hati Iqra mengenangkan kata-kata motivasi yang sentiasa diberikan tatkala memulakan hari yang baru untuk menghafal Al-Quran.

“Tahu.” Jawab Najihah dengan ceria. Ternyata emosi adik-adik hafizah yang penuh dengan kegembiraan mula berjangkit pada diri Iqra.

‘Ah… mata yang bercahaya ini tak pernah lekang dengan rasa ingin tahu.’ Iqra berbisik di dalam hati tatkala ditatap kembali mata Najihah yang bersinar dan menyambung kata-katanya.

“Cahaya Al-Quran akan menerangi kubur kita nanti. Selain itu, Al-Quran mampu untuk memberi syafaat untuk kita di akhirat nanti. Kalau kita membaca, menghafal Al-Quran, Allah akan memberikan mahkota dan baju persalinan yang sangat cantik untuk mama dan abah Najihah. Orang yang menghafal Al-Quran juga dapat menyelamatkan keluarganya dari api neraka.” Jelas Iqra lagi. Mindanya mencari kata-kata yang mudah untuk menjelaskan pada adik kecil itu.

“Seperti dalam hadis Rasulullah;

“Barangsiapa yang membaca Al-Quran dan menghafalnya sampai (tiga puluh juzuk) dengan sempurna, lalu menghalalkan yang halal dan mengharamkan perkara yang haram, maka Allah akan memasukkan ke dalam syurga dan diberikan kebenaran untuk memberikan syafaat kepada sepuluh orang dari keluarganya yang semestinya masuk neraka”

(Hadis Riwayat Ahmad dan Tarmizi).“

Ternyata, senyuman terus berbunga di bibir Najihah tatkala kata-kata yang dibekalkan bagaikan air yang meredakan api rasa ingin tahu yang membara di hatinya.

“Najihah sayang kat mama dengan abah, kan?” Tanya Iqra pada Najihah.

“Sayang.”

“Hm… Kalau macam tu, Najihah hafallah Al-Quran. Tapi, Najihah sentiasa betulkan niat, kenapa kita menghafal Al-Quran. Bukan supaya orang lain menggelarkan kita hafizah dan sebagainya. Kita berbuat kerana Allah. Boleh?” Iqra mencapai tangannya dan menepuk bahu Najihah untuk cuba menghulurkan walau sedikit sokongan dan semangat pada mujahidah kecil itu.

“Boleh.” Jawab Najihah dengan bersungguh-sungguh bersama senyuman puas di bibirnya.

“Ok? Ada apa-apa lagi?” Tanya Iqra pada Najihah untuk memastikan sama ada soalannya terjawab ataupun tidak. Iqra cuba mengupas sedikit demi sedikit tentang kelebihan membaca dan menghafal Al-Quran dan dia juga telah memberikan pengisian tentang perkara ini di hari pertama kem ini berlangsung. Pada pengetahuan Iqra, terdapat banyak lagi kelebihan yang ada untuk penghafal Al-Quran. Terlalu banyak dalil Al-Quran dan hadis tentang fadhilat membaca dan menghafal Al-Quran namun keterbatasan kata-kata yang terlahir di minda Iqra menyebabkan ia tidak terzahir secara lisan.

“Ok. Terima kasih ustazah.”

“Sama-sama”.

‘Alhamdulillah.’ Iqra memanjatkan syukur pada Ilahi, diberi kesempatan menjelaskan sesuatu pada seseorang tentang Al-Quran. Selain itu, dirinya bersyukur dengan pengisian dan juga ilmu yang diperolehi dari pembacaannya tentang Al-Quran, kelebihan membaca dan menghafal Al-Quran dari buku-buku yang dibaca. Iqra sedar bahawa kata-kata motivasi yang sentiasa dihulurkan pada adik-adik hafizah perlu sentiasa diulang beberapa kali untuk membakar semangat mereka. Tatkala mungkin, dirinya merisaukan keadaan adik-adik hafizah yang sentiasa bermujahadah melawan nafsu dan sifat malas yang menjadi ujian buat mereka yang menghafal Al-Quran. Hari-hari seterusnya bakal menjadi saksi kepada perjuangan suci mereka ini.

Iqra melangkah mengambil wuduk dan bersiap untuk solat Dhuha. Solat sunat yang menjadi rutin dalam hariannya dan kini dilakukan bersama-sama di Kem Hafazan. Dan solat Dhuha yang dianjurkan kepada umat Islam yang membuka pintu-pintu rezeki dari Tuhan, bagai pertemuan seketika dengan Tuhan sebelum menunggu masuknya waktu Zohor. Hatinya berbunga memanjat syukur pada Allah dengan keberadaannya di sini menghulurkan walau sedikit ilmu dan bakti. Dirinya bertekad untuk terus berusaha menjadi di antara sebaik- baik antara umat manusia seperti dalam hadis Rasulullah:

‘Sebaik-baik antara kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.’

(Hadis Riwayat Bukhari)

Selepas solat sunat Dhuha, semua peserta berkumpul untuk makan pagi di ruang bahagian luar surau. Apabila semua telah bersedia, seorang yang telah dilantik mengerusikan perhimpunan juga bertanggungjawab membaca doa. Setelah doa dilafazkan dan diaminkan secara jemaah, semua peserta makan bersama-sama. Di dalam kem ini, semua dianjurkan untuk makan bersama-sama dengan menggunakan dulang dan bukan pinggan; sesuai mengikut sunnah Rasulullah.

Iqra mengambil kesempatan beramah mesra dengan ustazah-ustazah yang lain pada ketika ini kerana di antara perkara yang boleh menguatkan jalinan ukhwah ialah makan bersama selain dari berjaulah (jalan-jalan) dan mabit bersama-sama. Ustazah Sakinah, Ustazah Wan, Ustazah Huda, Ustazah Yan dan Ustazah Rohaya; semua tenaga fasilitator yang bertanggungjawab mentasmi’ bacaan peserta-peserta berkongsi cerita, pengalaman dan masalah yang timbul sepanjang program berlangsung dan masing-masing memberi pendapat untuk menyelesaikannya.

Usai sudah makan pagi, semua peserta dikehendaki untuk kembali ke halaqah hafazan masing-masing. Iqra mengambil tempatnya dan menunggu semua peserta mengambil tempat masing-masing. Kelihatan semua serikandi-serikandi sejati itu masih larut dalam perbualan masing-masing kerana ternyata kem ini telah menemukan mereka yang berasal dari sekolah yang sama. Selain itu, apabila bertemu dengan rakan yang baru, pasti ada banyak perkara yang hendak dikongsikan bersama.

‘SubhanaAllah, permudahkan urusanku, ya Allah. Ana memohon dengan lemahnya kudratku ini. Semoga semua terus istiqamah menghafal Al-Quran.’ Doa Iqra di dalam hati.

“Bismilahirahmanirahim. Baiklah, kita buka majlis kita kembali dengan Al-Fatihah dan doa sebelum menghafal Al-Quran.” Iqra memberikan arahan.

Al-Fatihah dilafazkan dan doa diaminkan. Semua peserta melihat Iqra menunggu arahan seterusnya. Iqra mencapai sebuah buku di dalam beg dan membuka buku Titian Ke Surga karangan Amr Khalid terbitan Era Intermedia. Buku Titian ke Surga adalah antara buku kegemaran Iqra yang penuh dengan kata-kata motivasi untuk beribadah yang terkesan di hatinya. Di antara bahagian yang paling disukai ialah bahagian yang berkaitan dengan keutamaan Al-Quran.

“Ok, semua dah sedia untuk teruskan perjuangan?” Pertanyaan Iqra dibalas dengan senyuman pahit oleh beberapa peserta yang bersamanya. Secara kasarnya, menghafal Al-Quran secara berterusan juga mungkin menimbulkan perasaan bosan dan penat pada adik-adik hafizah.

Alhamdulillah, slot pada petangnya diisi dengan subjek yang lain seperti fikah, akhlak, tajwid, kemahiran keakhwatan dan sebagainya untuk meringankan sedikit tekanan yang mungkin dihadapi oleh peserta-peserta. Oleh kerana itu, fasilitator menjadi tunggak yang paling penting untuk memastikan para peserta terus bermujadah dengan hafalan mereka.

“Percaya tak antunna semua kalau ustazah katakan yang kita sedang dikelilingi oleh malaikat-malaikat?”

Persoalan itu membuatkan ramai adik-adik hafizah berkerut dan ada juga yang menjawab dengan perkataan ‘percaya’.

“Ok. Nabi Muhammad S.A.W bersabda:

Tidak ada satu kaum pun yang berkumpul dalam salah satu rumah Allah, di mana mereka membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, kecuali mereka akan dikelilingi oleh para malaikat, akan turun ketenangan kepada mereka, akan diselubungi rahmat, dan Allah akan menyebut (nama) mereka di antara orang-orang yang ada di sisi-Nya (para malaikat).

(Hadis riwayat Imam Muslim dan Abu Daud).

Maka, apa yang antunna semua rasakan sekarang ini?” Soal Iqra kepada peserta selepas dia mengutarakan hadis tersebut. Mata adik-adik hafizah yang tadi kebanyakannya layu kembali bersinar diiringi dengan senyuman simpul di bibir. Iqra meneruskan bicaranya.

“Ana tahu yang antunna sudah mula penat, letih dan kalau tidak keterlaluan untuk ana katakan mungkin berputus asa untuk menghafal sebab ayat-ayat ini susah untuk diterima. Tapi, tahukah antunna, malaikat sedang mengelilingi kita, dan InsyaAllah, kita semua dalam rahmat Allah S.W.T. Hmm… mungkin itu sebab ada yang mengantuk sebab masing-masing selesa dipayungi oleh sayap-sayap malaikat.” Gurauan Iqra disambut dengan sengih dan senyum panjang yang menghiasi wajah-wajah adik-adik hafizah.

“Sebenarnya, antunna semua sedang bermujahadah dengan hawa nafsu antunna, perasaan malas, letih dan penat. Maka, antunna semua adalah mujahidah dan mungkin antunna juga sedang dicemburui oleh bidadari-bidadari di syurga sekarang ini. Sebab antunna dalam perjuangan menghafal Al-Quran. Antunna ada misi di dunia untuk memperjuangkan kata-kata Allah. Untuk mempunyai Al-Quran di dalam diri. Antunna semua nak jadi bidadari-bidadari di dunia yang dicemburui bidadari syurga, kan?” Senyuman-senyuman itu terus mekar dan berbunga bersama azam di dalam dada masing-masing.

“Baiklah. Bismillahirahmanirahim. Antunna boleh teruskan hafalan masing-masing.” Ujar Iqra supaya mereka meneruskan usaha hafalan Al-Quran masing-masing.

Iqra mencapai kembali pen dan buku untuk menyambung hafalannya. Mushaf kesayangan dibuka pada tempat di mana dia berhenti.

‘Astaghfirullah…. Ya Allah, kuatkan hati ana, Allah. Kurniakan ana ketabahan untuk ana terus kuat berjuang keranaMu.’ Kata-kata dan doa terus dipanjatkan pada Allah. Tak sangka, surah Mutaffin yang menyebabkan berderai air matanya hari ini. Iqra kembali menguatkan hati dan semangatnya. Dengan tangan yang menggeletar, Iqra mencapai penanya dan menulis ayat-ayat cinta Allah itu di helaian-helaian kertas di buku hafalan teknik Al-Huffaz.

Sungguh, hatinya bertekad untuk terus membaca, memahami, mentaddabur, dan mengamalkan ayat-ayat yang indah itu. Walaupun kadang-kadang dirasakan ingin melarikan diri tatkala ayat-ayat bercerita tentang hari kiamat dan azab neraka yang menakutkan. Namun, ayat-ayat ini adalah janji-janji Allah yang benar. Sesuatu yang haq, yang pasti akan terjadi. Maka, dia akan tetap kembali untuk menagih lagi kata-kata dan janji yang tersedia oleh Tuhannya untuk penghayatan dirinya yang bergelar hamba Allah. Ketakutan di dalam diri Iqra juga timbul mengenangkan apakah usahanya untuk mengamalkan ayat-ayat yang telah dihafalnya.

‘Ya Allah, semoga ayat-ayat ini menjadi hujah buatku dan bukan hujah ke atasku. Ameen….ameen…ameen’. Harapan terus bersemi di dada Iqra untuk terus mencari ilmu Al-Quran dan mungkin kecenderungannya adalah untuk mendalami tajwid, cara bacaan Al-Quran dengan wajah rawi Hafs ‘An ‘Asim; qiraat yang biasa digunakan oleh masyarakat di Malaysia dan juga kaedah Resam Uthmani. Semoga segala-galanya dipermudahkan Allah.
Terakhir Diubah pada Selasa, 26 Januari 2010 13:10

Halaman 1 dari 74